{
    "title": "Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak",
    "props": {
        "ind_data": {
            "id_indikator": "351",
            "nama_indikator": "Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak",
            "definisi_operasional": "Definisi operasional cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah suatu kerangka kerja yang menjelaskan proses dan langkah-langkah konkret yang dilakukan oleh lembaga penegak hukum, seperti kepolisian dan sistem peradilan, dalam menangani kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak. Definisi ini merinci langkah-langkah yang harus diambil mulai dari fase penyelidikan, penyidikan, penuntutan, hing",
            "level": "1",
            "id_main_indikator": null,
            "id_skpd": "29",
            "nama_keluaran": "IKD",
            "id_satuan": "6",
            "id_akses": "1",
            "id_periodik": "1",
            "metadata": [
                {
                    "id_metadata": "9",
                    "nama_metadata": "Konsep",
                    "key_metadata": "konsep",
                    "keterangan": "Ide yang mendasari data dan tujuan data tersebut diproduksi",
                    "status": "1",
                    "timestamp": "2022-12-13 08:54:10",
                    "value": "Cakupan penegakan hukum dalam kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak melibatkan serangkaian langkah dari tingkat penyidikan hingga putusan pengadilan. Berikut adalah konsep umum dari cakupan penegakan hukum dalam kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak:  1. Pentingnya Perlindungan Korban: Dalam semua tahap penegakan hukum, perlindungan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak harus menjadi prioritas utama. 2. Laporan dan Penyelidikan: Proses dimulai dengan laporan ke polisi atau lembaga penegak hukum terkait. 3. Penuntutan: Jika ada cukup bukti yang mendukung, jaksa penuntut umum akan memutuskan apakah kasus ini layak diteruskan ke pengadilan. 4. Pengadilan:  Jika kasus diteruskan, persidangan akan dilakukan di pengadilan. 5. Pembebasan Sementara dan Perlindungan Korban: Selama persidangan, ada kemungkinan untuk mengeluarkan perintah penahanan sementara terhadap pelaku kekerasan, terutama jika dikhawatirkan akan ada ancaman terhadap korban atau risiko pelarian. 6. Mediasi dan Pendekatan Lain: Dalam kasus di mana korban adalah anak-anak, pendekatan mediasi dapat diambil. 7. Putusan Pengadilan: Setelah semua bukti dipresentasikan dan saksi diperiksa, hakim akan membuat keputusan. 8. Eksekusi Putusan: Berupa hukuman penjara, denda, atau tindakan lain yang sesuai dengan kebijakan hukum yang berlaku.  9. Rehabilitasi dan Dukungan Korban: Berupa dukungan psikologis, konseling, dan bantuan lainnya yang diperlukan agar korban bisa pulih dari dampak kekerasan yang mereka alami.  "
                },
                {
                    "id_metadata": "13",
                    "nama_metadata": "Metodologi",
                    "key_metadata": "metodologi",
                    "keterangan": "Tahapan dalam pengumpulan data dan rumus\/formula yang digunakan dalam perhitungan",
                    "status": "1",
                    "timestamp": "2023-01-09 04:03:12",
                    "value": " Metodologi penegakan hukum terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak melibatkan serangkaian langkah dan prosedur yang dimulai dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan, persidangan, hingga putusan pengadilan. Berikut adalah gambaran umum tentang metodologi yang umumnya diterapkan dalam cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak:  1. Pemberitahuan dan Pelaporan: Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat dilaporkan oleh korban, saksi, atau pihak lain yang mengetahuinya 2. Penyelidikan: Setelah menerima laporan, pihak penegak hukum akan melakukan penyelidikan awal untuk mengumpulkan bukti-bukti, informasi, dan keterangan saksi terkait kasus tersebut. 3. Penyidikan: Jika hasil penyelidikan menunjukkan adanya cukup bukti untuk menindaklanjuti, penyidikan formal akan dimulai. 4. Penuntutan: Setelah penyidikan selesai, jaksa penuntut umum akan menilai bukti-bukti yang terkumpul. 5. Persidangan: Setelah pihak penuntut mengajukan dakwaan, persidangan akan dimulai di pengadilan. 6. Putusan Pengadilan: Putusan ini bisa berupa vonis bersalah atau bebas. 7. Pelaksanaan Putusan: Jika terdakwa dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman, sistem penegakan hukum akan melaksanakan hukuman tersebut. "
                },
                {
                    "id_metadata": "14",
                    "nama_metadata": "Teknik Pengumpulan",
                    "key_metadata": "teknik_pengumpulan",
                    "keterangan": "Teknik yang digunakan survei atau kompilasi data (pilih salah satu)",
                    "status": "1",
                    "timestamp": "2023-01-09 04:04:26",
                    "value": "kompilasi data"
                },
                {
                    "id_metadata": "15",
                    "nama_metadata": "Nomor Romantik",
                    "key_metadata": "nomor_romantik",
                    "keterangan": "Pengesahan BPS atas data yang diajukan di Aplikasi Romantik BPS",
                    "status": "1",
                    "timestamp": "2023-01-09 04:05:30",
                    "value": "K-23.3517.036"
                },
                {
                    "id_metadata": "16",
                    "nama_metadata": "Nomor SDSN",
                    "key_metadata": "nomor_sdsn",
                    "keterangan": "",
                    "status": "1",
                    "timestamp": "2023-07-07 16:07:57",
                    "value": "-"
                }
            ],
            "id_konfirmasi": "205",
            "timestamp": "2025-07-17 08:32:00",
            "nama_skpd": "Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana dan PPPA",
            "kode_referensi": "415.38",
            "nama_satuan": "Persen",
            "nama_periodik": "Tahunan",
            "nama_akses": "Data Terbuka",
            "status_konfirmasi": "1",
            "alasan": null,
            "konsep": "Cakupan penegakan hukum dalam kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak melibatkan serangkaian langkah dari tingkat penyidikan hingga putusan pengadilan. Berikut adalah konsep umum dari cakupan penegakan hukum dalam kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak:  1. Pentingnya Perlindungan Korban: Dalam semua tahap penegakan hukum, perlindungan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak harus menjadi prioritas utama. 2. Laporan dan Penyelidikan: Proses dimulai dengan laporan ke polisi atau lembaga penegak hukum terkait. 3. Penuntutan: Jika ada cukup bukti yang mendukung, jaksa penuntut umum akan memutuskan apakah kasus ini layak diteruskan ke pengadilan. 4. Pengadilan:  Jika kasus diteruskan, persidangan akan dilakukan di pengadilan. 5. Pembebasan Sementara dan Perlindungan Korban: Selama persidangan, ada kemungkinan untuk mengeluarkan perintah penahanan sementara terhadap pelaku kekerasan, terutama jika dikhawatirkan akan ada ancaman terhadap korban atau risiko pelarian. 6. Mediasi dan Pendekatan Lain: Dalam kasus di mana korban adalah anak-anak, pendekatan mediasi dapat diambil. 7. Putusan Pengadilan: Setelah semua bukti dipresentasikan dan saksi diperiksa, hakim akan membuat keputusan. 8. Eksekusi Putusan: Berupa hukuman penjara, denda, atau tindakan lain yang sesuai dengan kebijakan hukum yang berlaku.  9. Rehabilitasi dan Dukungan Korban: Berupa dukungan psikologis, konseling, dan bantuan lainnya yang diperlukan agar korban bisa pulih dari dampak kekerasan yang mereka alami.  ",
            "metodologi": " Metodologi penegakan hukum terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak melibatkan serangkaian langkah dan prosedur yang dimulai dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan, persidangan, hingga putusan pengadilan. Berikut adalah gambaran umum tentang metodologi yang umumnya diterapkan dalam cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak:  1. Pemberitahuan dan Pelaporan: Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat dilaporkan oleh korban, saksi, atau pihak lain yang mengetahuinya 2. Penyelidikan: Setelah menerima laporan, pihak penegak hukum akan melakukan penyelidikan awal untuk mengumpulkan bukti-bukti, informasi, dan keterangan saksi terkait kasus tersebut. 3. Penyidikan: Jika hasil penyelidikan menunjukkan adanya cukup bukti untuk menindaklanjuti, penyidikan formal akan dimulai. 4. Penuntutan: Setelah penyidikan selesai, jaksa penuntut umum akan menilai bukti-bukti yang terkumpul. 5. Persidangan: Setelah pihak penuntut mengajukan dakwaan, persidangan akan dimulai di pengadilan. 6. Putusan Pengadilan: Putusan ini bisa berupa vonis bersalah atau bebas. 7. Pelaksanaan Putusan: Jika terdakwa dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman, sistem penegakan hukum akan melaksanakan hukuman tersebut. ",
            "teknik_pengumpulan": "kompilasi data",
            "nomor_romantik": "K-23.3517.036",
            "nomor_sdsn": "-",
            "urusan": [
                {
                    "id_ur_in": "1689",
                    "id_urusan": "7",
                    "nama_urusan": "Pemberdayaan Perempuan",
                    "keterangan": null
                },
                {
                    "id_ur_in": "1690",
                    "id_urusan": "8",
                    "nama_urusan": "Perlindungan Anak",
                    "keterangan": null
                }
            ],
            "keluaran": [
                {
                    "id_ur_in": "265",
                    "id_keluaran": "1",
                    "nama_keluaran": "IKD",
                    "keterangan": "Indeks K D"
                }
            ],
            "data": [
                {
                    "nama_tahun": "2021",
                    "id_data": "1758",
                    "id_indikator": "351",
                    "id_verifikasi": "1511",
                    "data_angka": "100",
                    "data_file": null,
                    "timestamp": "2022-12-28 03:02:19",
                    "status_verifikasi": "1",
                    "keterangan": "",
                    "tahun": "2021",
                    "status_data": "final"
                },
                {
                    "nama_tahun": "2022",
                    "id_data": "4381",
                    "id_indikator": "351",
                    "id_verifikasi": "3790",
                    "data_angka": "80",
                    "data_file": "Satu_Data_Indonesia_DINAS_PPKBPPPA53.xlsx",
                    "timestamp": "2026-02-04 08:47:39",
                    "status_verifikasi": "1",
                    "keterangan": "",
                    "tahun": "2022",
                    "status_data": "final"
                },
                {
                    "nama_tahun": "2023",
                    "id_data": "9701",
                    "id_indikator": "351",
                    "id_verifikasi": "9060",
                    "data_angka": "100",
                    "data_file": "SATU_DATA_PPA8.xlsx",
                    "timestamp": "2024-01-26 10:17:06",
                    "status_verifikasi": "1",
                    "keterangan": "",
                    "tahun": "2023",
                    "status_data": "final"
                },
                {
                    "nama_tahun": "2024",
                    "id_data": "11495",
                    "id_indikator": "351",
                    "id_verifikasi": "11517",
                    "data_angka": "28",
                    "data_file": "11__Proses_Hukum_.pdf",
                    "timestamp": "2024-09-27 11:19:56",
                    "status_verifikasi": "1",
                    "keterangan": "",
                    "tahun": "2024",
                    "status_data": "final"
                },
                {
                    "nama_tahun": "2025",
                    "id_data": "18140",
                    "id_indikator": "351",
                    "id_verifikasi": "16713",
                    "data_angka": "100",
                    "data_file": "",
                    "timestamp": "2026-01-21 03:00:06",
                    "status_verifikasi": "1",
                    "keterangan": "",
                    "tahun": "2025",
                    "status_data": "sementara"
                }
            ]
        },
        "sub_data": {
            "subs": [],
            "count": 0
        },
        "tahun": [
            {
                "id_tahun": "4",
                "nama_tahun": "2021",
                "keterangan": "",
                "status": "1",
                "input_lock": "1",
                "timestamp": "2023-11-03 10:56:01"
            },
            {
                "id_tahun": "5",
                "nama_tahun": "2022",
                "keterangan": "",
                "status": "1",
                "input_lock": "1",
                "timestamp": "2023-11-03 10:56:00"
            },
            {
                "id_tahun": "8",
                "nama_tahun": "2023",
                "keterangan": "Tahun 2023",
                "status": "1",
                "input_lock": "1",
                "timestamp": "2024-02-13 15:55:40"
            },
            {
                "id_tahun": "11",
                "nama_tahun": "2024",
                "keterangan": "Tahun 2024",
                "status": "1",
                "input_lock": "1",
                "timestamp": "2025-08-27 07:56:17"
            },
            {
                "id_tahun": "12",
                "nama_tahun": "2025",
                "keterangan": "",
                "status": "1",
                "input_lock": "1",
                "timestamp": "2025-11-27 11:56:09"
            }
        ]
    }
}